pemasangan WiFi / Hotspot Internet di Rumah, Cafe, Restaurant, tempat umum tanpa berlangganan Speddy dan telepon Rumah.

images

Assalamualaikum, Wr.Wb

hi, apa kabar semua?? semoga semua dalam keadaan sehat dan baik..

selepas dari kegagalan melamar jadi CPNS siak 2014 lalu, di tahun baru ini saya ingin menawarkan Jasa pemasangan Wifi / Hotspot internet tanpa berlangganan speedy dan telkom di Rumah, tempat makan, Cafe, tempat-tempat usaha lainnya.

pemasangan hotspot

pemasangan hotspot

adapun jasa yang saya tawarkan terbagi menjadi 3 jenis pemasangan Wifi

1. Standar, Pemasangan hanya menjangkau 1 tempat didalam ruangan saja, misalnya di cafe, atau warung kopi. Jadi Pengunjung dapat mengakses WiFi di dalam ruangan dan dekat dengan radio akses point. pemasangan hanya menggunakan radio akses point dan sebuah modem, tanpa adanya komputer server dan billing wifi nya. pengunjung bebas memakai wifi.

2. platinum, Pemasangan wifi dapat menjangkau area lebih dari 1 ruangan, misalnya ruko 2 tingkat atau 2 ruko berdekatan dapat mengakses wifi tersebut. pemasangan menggunakan radio akses point ditambah antena eksternal dan sebuah modem, tanpa komputer server untuk billing hotspot, pengunjung dapat bebas mengakses wifi

voucher wifi green wireles

voucher wifi green wireles

3. Gold, Pemasangaan wifi platinum dengan menggunakan komputer atau laptop atau netbook sebagai billing hotspot yang akan mengatur penggunaan wifi serta menampilkan halama login pada gadget pengunjung yang akan mengakses Wifi Hotspot internet. pengunjung yang akan mengakses Wifi terlebih dahulu meminta username dan password agar dapat login pada halaman login .

halaman login hotspot

Demikian jenis pemasangan Wifi Hotspot yang ditawarkan khususnya untuk daerah Perawang dan sekitar. untuk pertanyaan dan pendaftaran pemasangan dapat menghubungi admin wargaperawang.wordpress.com

Silahkan di lihat contoh nya di Rayhan Ponsel Perawang KM 6 Kab. Siak Riau. Info Hub 085365908102

Wassalamu’alaikum

 

Membuat Sinyal WiFi/Hotspot untuk Rumah, Cafe, Restoran, Warung Kopi, Sekolah, dan tempat-tempat lainnya tanpa Speedy dan Telepon Telkom

logo WiFi wargaperawang

WiFi wargaperawang

Assalamu’alaikum ,WrWb

Selamat Tahun Baru 2015 buat kita semua.. meskipun sekarang udah lewat dari 1 Januari tapi gak apa-apa masih bulan Januari…. dan juga selamat memperingati “Maulid Nabi Muhammad S.A.W” semoga kita menjadi umatnya yang taat akan sunnah-sunnahnya.

Baiklah di kesempatan kali ini, saya mau memberikan sedikit penjelasan dan informasi yang berguna bagi penggemar internetan baik itu browsing, downloading, chatting, FB, Tweet, pokoknya semua yang berhubungan internet lah.. Ada yang tahu “WiFi” gak ya? atau nama lainnya Hotspot.. kalau yang udah tahu tolong kasih tahu saya, hehe..

WiFi  merupakan suatu sebuah teknologi terkenal yang memanfaatkan peralatan elektronik untuk bertukar data secara nirkabel (menggunakan gelombang radio) melalui sebuah jaringan komputer, termasuk koneksi Internet Berkecepatan Tinggi (Wikipedia). sinyal dari gelombang radio tersebut memiliki frekuensi 2,4 ghz sampai 5,8 ghz yang bisa ditangkap oleh laptop, netbook, smartphone, tablet. untuk membuat gelombang radio tersebut memerlukan alat radio wifi atau dikenal dengan akses point. ada 2 kategori akses point berdasarkan sinyal wifi yang dihasilkan yaitu, yang 2,4 ghz dan yang 5,8 ghz. ada 2 jenis akses point berdasarkan letaknya yaitu, indoor dan outdoor. selain radio akses point, hal yang penting disiapkan untuk membuat wifi adalah ISP yaitu sumber internet yang akan dibagikan melalui wifi, banyak ISP yang ada di daerah kita, maka pilih yang sesuai dengan kebutuhan. PC atau komputer juga diperlukan dalam membangun wifi, baik sebagai sumber sinyal wifi, dan bisa sebagai server wifi. selain itu untuk memperluas area wifi, maka perlu ditambahkan antena dengan gain yang besar dan ditempatkan di atas tiang yang tinggi. maka area wifi akan semakin luas dan bisa ditangkap oleh perangkat yang mendukung sinyal wifi seperti smartphone atau tablet.

Di era globalisasi sekarang ini, akses internet sudah menjadi kebutuhan yang tinggi. banyak para pebisnis atau masyarakat yang tidak terlepas dari internet. keperluan internet sangat beragam baik untuk mencari informasi mengenai dunia usaha, berita dalam dan luarnegeri, sampai bermain media sosial seperti Facebook, tweeter, instagram, email dll. oleh karena itu di zaman sekarang WiFi telah menjadi terkenal di semua tempat baik itu di Cafe, Restaurant, Rumah makan, warung kopi, telah menyediakan WiFi untuk memberikan kepuasan bagi para pengunjung di tempat mereka. sehingga pengunjung dapat berinternetan sambil menyantap makanan dan minuman atau sambil bersantai bersama keluarga dan orang-orang terdekat di tempat usaha mereka. maka dari itu di sini saya sedikit memberikan informasi mengenai pemasangan WiFi di tempat usaha anda, silahkan saja bertanya dan berkonsultasi di sini, dan saya juga mempromosikan jasa pemasangan jaringan WiFi di tempat-tempat usaha anda, meskipun tanpa adanya ISP dari Speedy, telkom, dll. terutama di daerah Perawang dan sekitarnya.

okelah hanya sekian yang dapat saya berikan informasi kali ini, apabila ada kata saya yang salah dan kurang mohon dimaafkan. .

Wassalamualaikum. Wr.Wb

PERKEBUNAN SAWIT DI PROVINSI RIAU

PERSEBARAN AREA PERKEBUNAN SAWIT DI DAERAH PROVINSI RIAU

 

PROVINSI RIAU

Sebaran Areal Perkebunan Kelapa Sawit

Dari luas areal kebun kelapa sawit sebesar 1.781.900 ha, proporsi pengelolaan sebagian besar berupa perkebunan rakyat (889.916 ha) dan perkebunan besar swasta (812.439 ha). Luasan yang dikelola PTPN relatif kecil yakni sebesar 79.545 ha. Proporsi luasan areal kebun kelapa sawit dibagi menurut pengelolanya (perkebunan rakyat = PR, pemerintah = PTPN, dan perkebunan besar swasta = SWASTA) tertera pada Gambar 3.


Dari 11 kabupaten di Provinsi Riau, seluruhnya mempunyai tata guna lahan untuk areal perkebunan kelapa sawit dengan luas areal tanaman >100.000 ha, hanya di Kota Dumai memiliki luas areal kebun kelapa sawit kurang dari 50.000 ha (26.520 ha) dan di Kota Pekanbaru (7.455 ha). Di Kota Dumai, seluruh areal pekebunan kelapa sawit dikelola olah masyarakat. Sebaliknya di Kota Pekanbaru hampir seluruhnya dikelola oleh perkebunan swasta. Sebaran luas areal kebun kelapa sawit menurut kabupaten dan proporsi kepemilikan, tertera pada Tabel 2. Kabupaten dengan dominansi perkebunan kelapa sawit rakyat berturut-turut di Kabupaten Bengkalis (70,04%), Rokan Hilir (60,78%), Siak (58,07%), Kampar (50,98%), dan Kabupaten Kuantan Sengingi (50,49%). Sebaliknya kabupaten dengan dominansi perkebunan swasta berada di Kabupaten Pelalawan (66,70%) dan Kabupaten Indragiri Hilir (60,23%). Tidak ada dominansi areal perkebunan yang dikelola PTPN pada masing-masing kabupaten. Persentase di atas tidak menggambarkan luasan areal kebun kelapa sawit. Urutan tiga besar luasan kebun kelapa sawit milik rakyat berturut-turut di Kabupaten Kampar, Rokan Hulu, dan Rokan Hilir. Pada PTPN yang terluas terdapat di Kabupaten Rokan Hulu, Kampar, dan Kabupaten Siak. Sedang pada perkebunan swasta berturutturut di Kabupaten Rokan Hulu, Kampar, dan Rokan Hilir. Secara keseluruhan, kabupaten dengan areal kebun kelapa sawit terluas berturut-turut di Kabupaten Rokan Hulu, Kampar dan Rokan Hilir. Dikelompokkan menurut luasan areal kebun kelapa sawit di masing-masing kabupaten/kota, yakni : (0) dari yang tidak ada perkebunan kelapa sawit; (1) wilayah kabupaten dengan luasan areal kelapa sawit 1.000 – 100.000 ha; (2) wilayah provinsi dengan luasan areal kelapa sawit >100.000 – 500.000 ha); (3) wilayah kabupaten dengan luasan areal kelapa sawit >500.000 – 1.000.000 ha; dan (4) wilayah kabupaten dengan luasan areal kelapa sawit >1.000.000 ha. Peta sebaran wilayah dikelompokkan menurut luasan areal perkebunan kelapa sawit menurut kabupaten/kota di Provinsi Riau disajikan Peta 2. Perkembangan Areal Kebun Kelapa Sawit Selama periode waktu 2008 – 2011, luas areal kebun kelapa sawit di Provinsi Riau meningkat sebesar 8% (1.673.553 menjadi 1.807.404 ha). Kenaikan ini berasal juga berasal dari pembukaan areal oleh masyarakat dan perluasan oleh perusahaan swasta. Perluasan areal kebun sawit di atas rataan perkembangan nasional. Hal ini dihitung berdasarkan perkembangan luas tanam yakni sebesar 44.617 ha/th.

    Apabila status tanaman kelapa sawit dibedakan menurut status fisiologis yakni : (1) tanaman belum menghasilkan (TBM); (2) tanaman menghasilkan (TM); dan (3) tanaman tidak menghasilkan (TTM); pada tahun 2011 berturut-turut sebesar 17,60%, 81,84%, dan 0,56%. Dari gambaran ini menunjukkan bahwa tanaman produktif masih cukup besar. Areal TBM kemungkinan tidak diijinkan untuk lahan penggembalaan, karena kemungkinan terjadi kerusakan tanaman pokok. Pada status TBM, persentase paling besar terdapat pada perkebunan rakyat (20,75%) dan menurun pada perkebunan swasta (15,78%), serta PTPN (1,31%). Hanya pada perkebunan rakyat yang mempunyai areal dengan status TTM sebesar 1,12% (10.065 ha). Luas areal kebun kelapa sawit dikelompokkan menurut pengelola dan status tanaman tertera pada Gambar 4.

PENYAKIT LEPTOSPIROSIS



PENDAHULUAN

 

Bakteri merupakan makhluk hidup prokariotik yang paling sederhana. Ada beberapa jenis bakteri yang dapat menyebabkan penyakit pada manusian maupun hewan ternak. Tetapi dalam makalah ini hanya satu bakteri yang akan dijelaskan yaitu bakteri leptospira sp. yang menyebabkan beberapa penyakit pada hewan seperti Penyakit Weil, Demam
Icterohemorrhage, Penyakit Swineherd’s, Demam pesawah (Ricefield fever), Demam Pemotong tebu (Cane-cutter fever), Demam Lumpur, Jaundis berdarah, Penyakit Stuttgart, Demam Canicola, penyakit kuning non-virus, penyakit air
merah pada anak sapi, dan tifus anjing
. Penyakit akibat bakteri
Leptospira sp. ini dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya (zoonosis).

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Umum        

 


Bakteri Leptospira menggunakan Mikroskop elektron tipe scanning.

 

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan:

Bakteri

Filum:

Spirochaetes

Kelas:

Spirochaeates

Ordo:

Spirochaetales

Famili:

Leptospiraceae

Genus:

Leptospira

Serovar

  • Leptospira interogans
    • Lepstospira australis
    • Leptospira autumnalis
    • Leptospira ballum
    • Leptospira icterohemorrhagica
    • Leptospira canicola
    • Leptospira grippotyphosa
    • Leptospira pomona

 

 

Leptospirosis adalah penyakit akibat bakteri
Leptospira sp. yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya (zoonosis). Leptospirosis dikenal juga dengan nama Penyakit Weil, Demam
Icterohemorrhage, Penyakit Swineherd’s, Demam pesawah (Ricefield fever), Demam Pemotong tebu (Cane-cutter fever), Demam Lumpur, Jaundis berdarah, Penyakit Stuttgart, Demam Canicola, penyakit kuning non-virus, penyakit air
merah pada anak sapi, dan tifus anjing
. Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1886 oleh Adolf Weil dengan gejala panas tinggi disertai beberapa gejala saraf serta pembesaran hati dan limpa. Penyakit dengan gejala tersebut di atas oleh Goldsmith (1887) disebut sebagai Weil’s Disease. Pada tahun 1915 Inada berhasil membuktikan bahwa “Weil’s Disease” disebabkan oleh bakteri Leptospira icterohemorrhagiae.

  1. Etiologi


    Berbagai serovar Leptospira

Bakteri penyebab Leptosirosis yaitu bakteri Leptospira sp. Bakteri Leptospira merupakan Spirochaeta
aerobik (membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup), motil (dapat bergerak), gram negatif, bentuknya dapat berkerut-kerut, dan terpilin dengan ketat. Bakteri Lepstospira berukuran panjang 6-20 µm dan diameter 0,1-0,2 µm. Sebagai pembanding, ukuran sel darah merah hanya 7 µm. Jadi, ukuran bakteri ini relatif kecil dan panjang sehingga sulit terlihat bila menggunakan mikroskop cahaya dan untuk melihat bakteri ini diperlukan mikroskop dengan teknik kontras. Bakteri ini dapat bergerak maju dan mundur.

Leptospira mempunyai ±175 serovar, bahkan ada yang mengatakan Leptospira memiliki lebih dari 200 serovar. Infeksi dapat disebabkan oleh satu atau lebih serovar sekaligus. Bila infeksi terjadi, maka pada tubuh penderita dalam waktu 6-12 hari akan terbentuk zat kebal aglutinasi. Leptospirosis pada anjing disebabkan oleh infeksi satu atau lebih serovar dari Leptospira interrogans. Serovar yang telah diketahui dapat menyerang anjing yaitu L. australis, L. autumnalis, L. ballum, L. batislava, L. canicola, L. grippotyphosa, L. hardjo, L. ichterohemorarhagica, L. pomona, dan L. tarassovi. Pada anjing, telah tersedia vaksin terhadap Leptospira yang mengandung biakan serovar L. canicola dan L. icterohemorrhagica yang telah dimatikan. Serovar yang dapat menyerang sapi yaitu L. pamona dan L. gryptosa[5]. Serovar yang diketahui terdapat pada kucing adalah L. bratislava, L. canicola, L. gryppothyphosa, dan L. pomona. Babi dapat terserang L. pamona dan L. interogans, sedangkan tikus dapat terserang L. ballum dan L. ichterohaemorhagicae.

Bila terkena bahan kimia atau dimakan oleh fagosit, bakteri dapat kolaps menjadi bola berbentuk kubah dan tipis. Pada kondisi ini, Leptospira tidak memiliki aktifitas patogenik. Leptospira dapat hidup dalam waktu lama di air, tanah yang lembap, tanaman dan lumpur.

 

  1. Epidemiologi

Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease). Urin (air kencing) dari individu yang terserang penyakit ini merupakan sumber utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan. Kemampuan Leptospira untuk bergerak dengan cepat dalam air menjadi salah satu faktor penentu utama ia dapat menginfeksi induk semang (host) yang baru. Hujan deras akan membantu penyebaran penyakit ini, terutama di daerah banjir
[8]. Gerakan bakteri memang tidak memengaruhi kemampuannya untuk memasuki jaringan tubuh namun mendukung proses invasi dan penyebaran di dalam aliran darah induk semang.

Di Indonesia, penularan paling sering terjadi melalui tikus pada kondisi banjir. Keadaan banjir menyebabkan adanya perubahan lingkungan seperti banyaknya genangan air, lingkungan menjadi becek, berlumpur, serta banyak timbunan sampah yang menyebabkan mudahnya bakteri Leptospira berkembang biak. Air kencing tikus terbawa banjir kemudian masuk ke tubuh manusia melalui permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata dan hidung.. Sejauh ini tikus merupakan reservoir dan sekaligus penyebar utama Leptospirosis karena bertindak sebagai inang alami dan memiliki daya reproduksi tinggi. Beberapa hewan lain seperti sapi, kambing, domba, kuda, babi, anjing dapat terserang Leptospirosis, tetapi potensi menularkan ke manusia tidak sebesar tikus.

Bentuk penularan Leptospira dapat terjadi secara langsung dari penderita ke penderita dan tidak langsung melalui suatu media. Penularan langsung terjadi melalui kontak dengan selaput lendir (mukosa) mata (konjungtiva), kontak luka di kulit, mulut, cairan urin, kontak seksual dan cairan abortus (gugur kandungan). Penularan dari manusia ke manusia jarang terjadi.

Penularan tidak langsung terjadi melalui kontak hewan atau manusia dengan barang-barang yang telah tercemar urin penderita, misalnya alas kandang hewan, tanah, makanan, minuman dan jaringan tubuh. Kejadian Leptospirosis pada manusia banyak ditemukan pada pekerja pembersih selokan karena selokan banyak tercemar bakteri Leptospira. Umumnya penularan lewat mulut dan tenggorokan sedikit ditemukan karena bakteri tidak tahan terhadap lingkungan asam

 

  1. Gejala Klinis

Pada hewan

Pada hewan, Leptospirosis kadangkala tidak menunjukkan gejala klinis (bersifat subklinis), dalam arti hewan akan tetap terlihat sehat walaupun sebenarnya dia sudah terserang Leptospirosis. Kucing yang terinfeksi biasanya tidak menunjukkan gejala walaupun ia mampu menyebarkan bakteri ini ke lingkungan untuk jangka waktu yang tidak pasti. Gejala klinis yang dapat tampak yaitu ikterus atau jaundis, yakni warna kekuningan, karena pecahnya butir darah merah (eritrosit) sehingga ada hemoglobin dalam urin. Gejala ini terjadi pada 50 persen kasus, terutama jika penyababnya L. pomona. Gejala lain yaitu demam, tidak nafsu makan, depresi, nyeri pada bagian-bagian tubuh, gagal ginjal, gangguan kesuburan, dan kadang kematian. Apabila penyakit ini menyerang ginjal atau hati secara akut maka gejala yang timbul yaitu radang mukosa mata (konjungtivitis), radang
hidung (rhinitis), radang tonsil (tonsillitis), batuk dan sesak napas. Pada babi muncul gejala kelainan saraf, seperti berjalan kaku dan berputar-putar. Pada anjing yang sembuh dari infeksi akut kadangkala tetap mengalami radang ginjal interstitial kronis atau radang hati (hepatitis) kronis. Dalam keadaan demikian gejala yang muncul yaitu penimbunan cairan di abdomen (ascites), banyak minum, banyak urinasi, turun berat badan dan gejala saraf. Pada sapi, infeksi Leptospirosis lebih parah dan lebih banyak terjadi pada pedet dibandingkan sapi dewasa dengan gejala demam, jaundis, anemia, warna telinga maupun hidung yang menjadi hitam, dan kematian (Bovine Leptospirosis).. Angka kematian (mortalitas) akibat Leptospirosis pada hewan mencapai 5-15 persen, sedangkan angka kesakitannya (morbiditas) mencapai lebih dari 75 persen
.

Pada Manusia

Masa inkubasi Leptospirosis pada manusia yaitu 2 – 26 hari. Infeksi Leptospirosis mempunyai manifestasi yang sangat bervariasi dan kadang tanpa gejala, sehingga sering terjadi kesalahan diagnosa. Infeksi L. interrogans dapat berupa infeksi subklinis yang ditandai dengan flu ringan sampai berat, Hampir 15-40 persen penderita terpapar infeksi tidak bergejala tetapi serologis positif. Sekitar 90 persen penderita jaundis ringan, sedangkan 5-10 persen jaundis berat yang sering dikenal sebagai penyakit Weil. Perjalanan penyakit Leptospira terdiri dari 2 fase, yaitu fase septisemik dan fase imun. Pada periode peralihan fase selama 1-3 hari kondisi penderita membaik. Selain itu ada Sindrom Weil yang merupakan bentuk infeksi Leptospirosis yang berat.

Fase Septisemik

Fase Septisemik dikenal sebagai fase awal atau fase leptospiremik karena bakteri dapat diisolasi dari darah, cairan serebrospinal dan sebagian besar jaringan tubuh. Pada stadium ini, penderita akan mengalami gejala mirip flu selama 4-7 hari, ditandai dengan demam, kedinginan, dan kelemahan otot. Gejala lain adalah sakit tenggorokan, batuk, nyeri dada, muntah darah, nyeri kepala, takut
cahaya, gangguan mental, radang selaput otak (meningitis), serta pembesaran limpa dan hati.

Fase Imun

Fase Imun sering disebut fase kedua atau leptospirurik karena sirkulasi antibodi dapat dideteksi dengan isolasi kuman dari urin, dan mungkin tidak dapat didapatkan lagi dari darah atau cairan serebrospinalis. Fase ini terjadi pada 0-30 hari akibat respon pertahanan tubuh terhadap infeksi. Gejala tergantung organ tubuh yang terganggu seperti selaput otak, hati, mata atau ginjal.

Jika yang diserang adalah selaput otak, maka akan terjadi depresi, kecemasan, dan sakit kepala. Pada pemeriksaan fungsi hati didapatkan jaundis, pembesaran hati (hepatomegali), dan tanda koagulopati. Gangguan paru-paru berupa batuk, batuk darah, dan sulit bernapas. Gangguan hematologi berupa peradarahan dan pembesaran limpa (splenomegali). Kelainan jantung ditandai gagal jantung atau perikarditis. Meningitis aseptik merupakan manifestasi klinis paling penting pada fase imun.

Leptospirosis dapat diisolasi dari darah selama 24-48 jam setelah timbul jaundis. Pada 30 persen pasien terjadi diare atau kesulitan buang air besar (konstipasi), muntah, lemah, dan kadang-kadang penurunan nafsu makan. Kadang-kadang terjadi perdarahan di bawah kelopak mata dan gangguan ginjal pada 50 persen pasien, dan gangguan paru-paru pada 20-70 persen pasien.

Gejala juga ditentukan oleh serovar yang menginfeksi. Sebanyak 83 persen penderita infeksi L. icterohaemorrhagiae mengalami ikterus, dan 30 persen pada L. pomona. Infeksi L. grippotyphosa umumnya menyebabkan gangguan sistem pencernaan. Sedangkam L. pomona atau L. canicola sering menyebabkan radang selaput otak (meningitis)

Sindrom Weil

Sindrom Weil adalah bentuk Leptospirosis berat ditandai jaundis, disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru-paru, dan diathesis perdarahan. Kondisi ini terjadi pada akhir fase awal dan meningkat pada fase kedua, tetapi bisa memburuk setiap waktu. Kriteria penyakit Weil tidak dapat didefinisikan dengan baik. Manifestasi paru meliputi batuk, kesulitan bernapas, nyeri dada, batuk darah, dan gagal napas. Disfungsi ginjal dikaitkan dengan timbulnya jaundis 4-9 hari setelah gejala awal. Penderita dengan jaundis berat lebih mudah terkena gagal ginjal, perdarahan dan kolap kardiovaskular. Kasus berat dengan gangguan hati dan ginjal mengakibatkan kematian sebesar 20-40 persen yang akan meningkat pada lanjut usia.

  1. Diagnosa


Bakteri Leptospira secara mikroskopis pada jaringan ginjal menggunakan metode pewarnaan perak

    Untuk mendiagnosa Leptospirosis, maka hal yang perlu diperhatikan adalah riwayat penyakit, gejala klinis dan diagnosa penunjang. Sebagai diagnosa penunjang, antara lain dapat dilakukan pemeriksaan urin dan darah. Pemeriksaan urin sangat bermanfaat untuk mendiagnosa Leptospirosis karena bakteri Leptospira terdapat dalam urin sejak awal penyakit dan akan menetap hingga minggu ketiga. Cairan
tubuh lainnya yang mengandung Leptospira adalah darah, serebrospinal tetapi rentang peluang untuk isolasi bakteri sangat pendek. Selain itu dapat dilakukan isolasi bakteri Leptospira dari jaringan lunak atau cairan tubuh penderita, misalnya jaringan hati, otot, kulit dan mata. Namun, isolasi Leptospira termasuk sulit dan membutuhkan waktu beberapa bulan.

Untuk mengukuhkan diagnosa Leptospirosis biasanya dilakukan pemeriksaan serologis. Antibodi dapat ditemukan di dalam darah pada hari ke-5-7 sesudah adanya gejala klinis. Kultur atau pengamatan bakteri Leptospira di bawah mikroskop berlatar gelap umumnya tidak sensitif. Tes serologis untuk mengkonfirmasi infeksi Leptospirosis yaitu Microscopic agglutination test (MAT). Tes ini mengukur kemampuan serum darah pasien untuk mengagglutinasi bakteri Leptospira yang hidup. Namun, MAT tidak dapat digunakan secara spesifik pada kasus yang akut, yakni kasus yang terjadi secara cepat dengan gejala klinis yang parah. Selain itu, diagnosa juga dapat dilakukan melalui pengamatan bakteri Leptospira pada spesimen organ yang terinfeksi menggunakan imunofloresen.

  1. Tindakan Pencegahan

Pada Hewan

Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan vaksin
Leptospira. Vaksin Leptospira untuk hewan adalah vaksin inaktif dalam bentuk cair (bakterin) yang sekaligus bertindak sebagai pelarut karena umumnya vaksin Leptospira dikombinasikan dengan vaksin lainnya, misalnya distemper dan hepatitis. Vaksin Leptospira pada anjing yang beredar di Indonesia terdiri atas dua macam serovar yaitu L. canicola dan L. ichterohemorrhagiae. Vaksin Leptospira pada anjing diberikan saat anjing berumur 12 minggu dan diulang saat anjing berumur 14-16 minggu. Sistem kekebalan sesudah vaksinasi bertahan selama 6 bulan, sehingga anjing perlu divaksin lagi setiap enam bulan.

Pada Manusia

Manusia harus mewaspadai tikus sebagai pembawa utama dan alami penyakit ini. Pemberantasan tikus terkait langsung dengan pemberantasan Leptospirosis. Selain itu, para peternak babi dihimbau untuk mengandangkan ternaknya jauh dari sumber air. Feses
ternak perlu diarahkan ke suatu sumber khusus sehingga tidak mencemari lingkungan terutama sumber air.

  1. Tindakan Pengobatan

    Pada Hewan

Hewan, terutama hewan kesayangan, yang terinfeksi parah perlu diberikan perawatan intensif untuk menjamin kesehatan
masyarakat dan mengoptimalkan perawatan. Antibiotik yang dapat diberikan yaitu doksisiklin, enrofloksasin, ciprofloksasin atau kombinasi penisillin-streptomisin. Selain itu diperlukan terapi suportif dengan pemberian antidiare, antimuntah, dan infus.

Pada Manusia

Leptospirosis yang ringan dapat diobati dengan antibiotik doksisiklin, ampisillin, atau amoksisillin. Sedangkan Leptospirosis yang berat dapat diobati dengan penisillin G, ampisillin, amoksisillin dan eritromisin.

  1. Aspek Kesehatan Masyarakat Veteriner

Manusia rawan oleh infeksi semua serovar Leptospira sehingga manusia harus mewaspadai cemaran urin dari semua hewan. Perilaku hidup sehat dan bersih merupakan cara utama untuk menanggulangi Leptospirosis tanpa biaya. Manusia yang memelihara hewan kesayangan hendaknya selalu membersihkan diri dengan antiseptik setelah kontak dengan hewan kesayangan, kandang, maupun lingkungan di mana hewan berada.

PENUTUP

 

Kesimpulan

Bakteri merupakan salah satu penyebab penyakit pada manusia maupun hewan ternak. Leptospirosis adalah penyakit akibat bakteri
Leptospira sp. yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya (zoonosis). Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease). Urin (air kencing) dari individu yang terserang penyakit ini merupakan sumber utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan.

    

Sistem perkawinan Out breeding pada ternak

Berikut adalah makalah yang berkaitan dengan sistem perkawinan outbreeding pada ternak . semoga dapat membantu anda dalam mempelajarinya, dan jangan lupa beri saran pada situs ini.

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang

Sistem perkawinan hewan adalah cabang ilmu hewan yang membahas evaluasi dari nilai genetik ternak dalam negeri. Bangsa (breeds) adalah kelompok hewan domestik dengan penampilan homogen, perilaku, dan karakteristik lain yang membedakannya dari hewan lain. Pengaturan perkawinan pada ternak sangat penting untuk tujuan mendapatkan keturunan yang unggul. Perkawinan ternak dapat dilakukan 2 cara, yaitu inbreeding atau outbreeding

Di dalam biologi yang evolusiner, tekanan penyimpangan hasil pemuliaan mengacu pada kasus-kasus ketika keturunan dari persilangan antara individu dari populasi-populasi yang berbeda mempunyai produktivitas lebih rendah dibanding keturunan dari persilangan antara individu dari populasi yang sama. Peristiwa ini dapat terjadi di dalam dua arah. Pertama-tama, pemilihan dalam satu populasi akan menghasilkan suatu ukuran tubuh yang besar, sedangkan di dalam ukuran tubuh populasi kecil yang lain boleh jadi lebih menguntungkan. Aliran gen antara populasi-populasi ini boleh menjurus kepada individu dengan ukuran-ukuran tubuh intermediate/antara, yang tidak akan adaptif dalam populasi manapun.

Di dalam istilah yang genetik, perkawinan tertutup (Biak-dalam/Inbreeding) adalah pembiakan dari dua Ternak yang berhubungan dengan satu sama lain. Dalam kebalikannya, silang luar, kedua orang tua secara total tidak bertalian. Karena semua keturunan yang murni dari binatang menyusur-galurkan sampai kembali kepada suatu nomor terbatas secara relatif sebagai dasar semua pembiakan murni adalah oleh perkawinan tertutup (inbreeding), meski istilah itu tidak secara umum digunakan untuk mengacu pada persilangan-persilangan di mana nenek moyang pada umumnya tidak terjadi dan membendung suatu empat atau lima silsilah generasi. Kasip (1988) menambahkan bahwa faktor pendukukung pembentukan bangsa baru ini adalah dengan mengutip penjelasan dari Warwick (1983) yang menyatakan bahwa Keberhasilan usaha untuk menghasilkan bangsa baru ternak sangat tergantung pada dua faktor, yaitu pemanfaatan heterosis dan jumlah total ternak-ternak dalam populasi. Kemudian beliaupun menambahkan penjelasan dari Weatley (1979) yang menyatakan Adanya heterosis pada keturunan karena adanya pengaruh gen-gen dominan dan besarnya keunggulan dari type crossbred yang digunakan sebagai dasar dari suatu bangsa baru disebaabkan oleh kombinasi gen dengan pengaruh aditif lawan heterosis yang disebabkan oleh pengaruh gen non-aditif (Warwick dkk, 1983).

Untuk kepentingan jumlah total ternak-ternak dalam populasi warwick dkk. (1983) menyatakan, populasi yang digunakan untuk membentuk suatu bangsa baru harus cukup besar untuk mencegah derajat silang dalam naik lebih dari 0.5 sampai 1.0 persen tiap generasi. Bila silang dalam meningkat lebih cepat lagi, maka produktivitas dapat cukup tertekan sehingga membahayakan keberhasilan dari bangsa baru itu.

 

1.2 Permasalahan

Terkadang dalam melakukan persilangan di temukan beberapa hambatan. Pada inbreeding terjadinya perkawinan satu keluarga menyebabkan diturunkannya sifat-sifat resesif pada keturunan berikutnya, terkadang pula menimbulkan gen letal yang menyebabkan ternak mati setelah dilahirkan dan saat masih dalam kandungan. Demikian pula pada outbreeding. Penyilangan yang sering terjadi dengan bangsa ternak yang lain menyebabkan hilangnya kepekaan alami ternak terhadap respon imun yang disebabkan oleh tingkat persilangan yang tinggi yang menghilangkan sifit-sifat asli dari suatu ternak. Dari permasalahan-permasalahan tersebut, timbul suatu keinginan untuk membahas masalah-masalah tersebut secara lebih lanjut agar di dapati solusi yang lebih baik.

 

1.3 Tujuan

  1. Untuk membantu memahami proses outbreeding dalam kehidupan ternak yang berkaitan langsung dengan produktivitasnya.
  2. Untuk mengetahui mekanisme kerja Outbreeding dalam pemuliaan ternak.

1.4 Manfaat

    Dengan membahas tentang sistem perkawinan dan jenis perkawinan kita dapat membedakan tipe persilangan-persilangan pada ternak, mengetahui kelebihan sistem persilangan outbreeding dan juga kekurangan outbreeding dan dapat mempraktekkan pada hewan ternak.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

Outbreeding

Outbreeding adalah system perkawinan hewan dari jenis yang sama tetapi yang tidak memiliki hubungan yang lebih dekat dari sedikitnya 4-6 generasi.
Silang luar (biak-luar) yang dikombinasikan dengan pemilihan adalah suatu teknik sangat bermanfaat dalam perbaikan keturunan yang mencakup kepada ciri-ciri yang turun temurun yang sangat bermanfaat (Warwick, 1984). Dari penjelasan di atas, dapat dilihat kesimpulannya di kemukakan oleh Pane (1980) yang mengatakan bahwa Istilah biak-luar sebenarnya kebalikan dari biak-dalam. Membiak-luar adalah perkawinan ternak yang hubungan keluarganya kurang dari hubungan kekeluargaan rata-rata ternak dari mana mereka berasal, Atau untuk mudahnya dari ternak yang tidak mempunyai leluhur bersama selama paling sedikit empat generasi. perkawinan mempunyai keuntungan yang berikut. (1) metoda ini adalah sangat efektif karena karakter-karakter yang sebagian besar di bawah kendali dari gen-gen dengan pengaruh penambahan seperti; produksi susu, laju pertumbuhan di dalam ternak, seperti pada daging sapi, dll. (2) sistim yang efektif untuk perbaikan genetika jika dikombinasikan dengan seleksi. (3) merupakan cara terbaik untuk kebanyakan perkawinan Mukherjee (1980).

Istilah biak-luar sebenarnya kebalikan dari biak-dalam. Membiak-luar adalah perkawinan ternak yang hubungan keluarganya kurang dari hubungan kekeluargaan rata-rata ternak dari mana mereka berasal, Atau untuk mudahnya dari ternak yang tidak mempunyai leluhur bersama selama paling sedikit empat generasi. Sehingga dalam Penelitian yang dilakukan oleh Lestari, dkk (1997) memberikan contoh bahwa pada sapi-sapi yang Secara genetic seperti sapi Simmental, Limosin dan Brahman mempunyai mutu lebih baik dibandingkan sapi Bali akibatnya keturunan pejantan sapi Simental, Brahman dan Limosin juga mempunyai mutu genetik yang lebih baik diabandingkan keturunan pejantan sapi Bali.

Membiak-luar adalah suatu metode standar untuk memperbesar variasi populasi, biak secara fenotip atau genotip. Keadaan heterozigot dari populasi akan meningkat dan sebagai akibatnya kesegaran/ketahanan dan daya adaptasi ternak terhadap lingkungan juga akan meningkat. Mastur dan M. Dohi (1996) memberikan contoh Untuk meningkatkan populasi dan produktivitas kambing pada usaha tani lahan kering guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan Petani maka perlu diambil langkah-langkah upaya pengembagan salah satunya penyediaan bibit unggul. Menurut mereka, bila dipandang perlu dapat pula mendatangkan bibit kambing yang berasal dari daerah-daerah kering seperti Afrika yang cukup banyak terdapat, bangsa-bangsa kambing dengan pertumbuhan yang baik seperti kambing Mudian. Pejantan kambing ini dapat mencapai bobot badan 50 – 60 Kg..

Out breeding adalah perkawinan antara ternak yang tidak mempunyai hubungan kekerabatan. Perkawinan ini bisa satu bangsa ternak, atau beda bangsa ternak, tergantung dari tujuan perkawinannya. Secara garis besar out breeding dapat dibedakan menjadi :

1. Biak silang (cross breeding)

2. Biak silang luar (out breeding)

3. Biak tingkat (grading up)

Biak silang ( Cross-breeding )

Cross breeding adalah persilangan antar ternak yang tidak sebangsa. Misal antara sapi Brahman dengan sapi Angus. Ayam Island Red dengan White Rock, dan lain-lain.

Jenis persilangan ini memegang peranan penting dalam pemuliaan ternak,dengan kegunaan-kegunaan :

1. Saling substitusi sifat yang diinginkan.

2. Memanfaatkan keunggulan ternak dalam keadaan hetrozygot.

Biak silang hingga saat ini tetap memegang peranan penting dalam perbaikan mutu ternak. Banyak ternak yang disebut sekarang Murni (Pure Bred) sebenarnya adalah hasil biak silang beberapa waktu yang lalu dan masalah penentuan istilah antara hasil biak silang dan peranakan atau blasteran tetap ada. Sehingga Warwick (1990) mengemukakan bahwa beberapa bangsa diketahui menjadi Inbreed atau mengalami perkawinan galur secara intensif selama tahap-tahap pembentukannya.

Pola dan efek crossbreeding

Secara genetis, crossbreed dan inbreed berlawanan. Dalam perkawinan sistem crossbreed, gen tetap bersifat hehetrozigot. Sementara itu, pada sistem inbreed, komposisi gen menjadi semakin homozigot sesuai dengan tingkat inbreednya, dan efek negatif yang berhubungan dengan stamina, cacat bawaan, dan tingkat produksi mungkin muncul dalam sistem ini. Peternakan modern saat ini sudah banyak yang berhasil menggunakan crossbreeding untuk mendapatkan ternak unggul sesuai dengan yang diharapkan. Keberhasilan untuk mendapatkan bibit unggul hasil crossbreeding tergantung pada kemampuan si peternak dalam menyeleksi indukan, memilih pasangan indukan, menilai hasil ternakan, dan menyimpulkan pola yang tepat. Mendapatkan pola yang tepat dalam crossbreeding haruslah berdasarkan pada uji coba, pengalaman, dan pengamatan yang berdasarkan pada jenis dan sifat ternak.

Berikut ini bagan pola crossbreeding


 

Contoh bangsa sapi baru yang terbentuk dari crossbreding :

Sapi Santa Gertrudis

Hasil perkawinan antara sapi Brahman dengan sapi Shorthorn.

Sapi Brangus

Hasil perkawinan antara sapi Brahman dengan sapi Aberdin Angus. Komposisi darahnya adalah 3/8 Brahman, 5/8 Angus.

Sapi Beef Master

Hasil persilangan antara sapi Brahman, Shorthorn dan sapi Hereford, dengan komposisi darah : 25% Hereford, 25% Shorthorn, 50% Brahman.

Sapi Charbray

Hasil kawin silang sapi Brahman dengan sapi Charolais. Komposisi darahnya adalah 3/16 Brahman, dan 13/16 Charolais.

Crisscrossing : Program crossbreeding berkelanjutan


Mukherjee (1980) menyatakan Criss-Crossing adalah persilangan ternak yang terpisah dari Crosbreeding. Di mana keduanya sebagai silang alternatif, cara ini dikenal sebagai criss-crossing. Metoda itu diusulkan karena memanfaatkan heterosis di dalam kedua induk dan keturunan. Pane, (1980) menambahkan, Biak silang hingga saat in tetap memegang peranan penting dalam perbaikan mutu ternak. Banyak ternak yang disebut sekarang Murni (Pure Bred) sebenarnya adalah hasil biak silang beberapa waktu yang lalu dan masalah penentuan istilah antara hasil biak silang dan peranakan atau blasteran tetap ada.

3-breed Rotational Cross : crossbreeding berkelanjutan antara tiga bangsa ternak


 

Out Crossing

Out crossing adalah persilangan antara ternak dalam yang satu bangsa tetapi tidak mempunyai hubungan kekerabatan. Tujuan utama out crossing adalah untuk menjaga kemurnian bangsa ternak tertentu tanpa silang dalam.

 

Grading Up

Grading Up adalah perkawinan pejantan murni dari satu bangsa dengan betina yang belum didiskripsikan atau belum diperbaiki dan dengan keturunannya betina dari generasi ke generasi (Warwick et al., 1990).
Grading up adalah persilangan balik yang dilakukan terus menerus dan diarahkan terhadap saru bangsa ternak tertentu. Contoh Grading up di Indonesia yaitu proses Ongolisasi (Sejak pemerintah Hindia Belanda). Sapi-sapi betina lokal Indonesia dikawinkan dengan pejantan Ongol terus menerus, sehingga terbentuk sapi yang disebut peranakan ongol (PO). Tujuan Grading Up adalah untuk memperbaiki ternak-ternak lokal. Kelemahan Grading up adalah dapat menyebabkan ternak-ternak lokal punah. Grading up adalah perkawinan yang digunakan untuk meningkatkan mutu genetik ternak yang diskrib (tidak jelas asal usulnya). Ternak dan kemudian keturunannya tersebut dikawinkan secara terus menerus dengan ternak yang memeiliki galur murni dan sifat yang jelas diharapkan. Semakin sering dilakukan perkawinan maka keturunannya akan semakin mendekati sifat yang diinginkan.

Skema Grading up dapat dilihat pada gambar di bawah:


 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

 

 

3.1 Kesimpulan

    Outbreeding merupakan metode penyilangan campuran yang bertujuan untuk mengahasilkan ternak yang berkualitas dalam hal ini peningkatan produktivitas ternak itu sendiri. Terdapat macam-macam outbreeding, yaitu crossbreeding atau biak silang, out cross, dan grading up.

 

3.2 Saran

    biak-luar sangat baik dilakukan untuk mendapat ternak yang berkualitas, peningkatan penyilangan ini di sarankan dilakukan untuk meningkatkan kualitas gen pada ternak-ternak.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Lestari & I Putu Sudrama. 1999. Polimortisme Protein Ayam Kampung di Kota Madya Mataram. (S.H Dilaga dkk.1999. Bovine. UNRAM Press, Mataram.).

 

Kasip., L. M. 1988. Pengamatan sifat kualitatif dan kuantitatif pada sapi

 

Lestari, dkk. 1997. Bobot Badan dan Ukuran- Ukuran Tubuh Sapi Bali dan persilangannya Pada Umur sapih dan Umur Setahun. (Bovine Vol 6 No 16 Maret 1997 FAPET,UNRAM)

 

http://www.ebooklibs.com/genetik_sapi_potong.html

http://pustaka.unpad.ac.id/archives/51819/

http://www.ebooklibs.com/red.php?web=http://disnaksulsel.info/index2.php?option=com

http://pratamasandra.wordpress.com/2009/04/05/manfaat-heritabilitas-dalam-pemuliaan-ternak/

ZAT ANTI NUTRISI (ASAM OKSALAT)

Anti nutrisi merupakan senyawa pada pakan yang mengganggu penyerapan nutrisi bahkan dapat menimbulkan gangguan pada tubuh ternak. Asam oksalat merupakan anti nutrisi yang dapat ditemukan di dalam hijauan pakan ternak. Asam oksalat dalam lingkungan asam tinggi kurang lebih ber-pH 2 akan membentuk kalium oxalat (K2C2H2O4) tetapi dalam kondisi sedikit asam, kurang lebih ber-pH 6, maka asam oksalat akan membentuk natrium oxalat (Na2C2H2O4), calsium oxalat (CaC2H2O4) dan magnesium oxalat (MgC2H2O4). Garam- garam yang terbentuk dapat menggumpal pada saluran urinaria sehingga ternak akan mengalami kesakitan. Di Amerika Serikat, problem peternakan domba yang berhubungan dengan oksalat adalah pada tanaman halogeton (Halogeton glomeratus) yang meracuni sebagian besar domba. Sejumlah besar domba mati akibat keracunan halogeton. Di Australia, soursob (Oxalis pescaprae) yaitu tanaman yang diintroduksi dari Afrika Selatan menyebabkan problem yang meluas. Di Australia dan bagian daerah tropik lainnya, rumput-rumputan tropis tertentu seperti setaria (Setaria sphacelata) dan Panicum spp. (rumput gajah, rumput guinea) mungkin mengandung racun oksalat. Diantara tanaman yang digunakan untuk nutrisi manusia dan hewan, atau tanaman yang ditemukan dalam makanan hewan; yang paling banyak mengandung oksalat adalah spesies Spinacia, Beta, Atriplex, Rheum, Rumex, Portulaca, Tetragonia, Amarantus, Musa parasisiaca. Daun teh, daun kelembak dan kakao juga mengandung oksalat cukup banyak.

 

Latar Belakang

Pakan merupakan faktor penting dalam budidaya peternakan, karena merupakan faktor in put yang akan diproses oleh ternak untuk menghasilkan out put dalam wujud hasil ternak seperti telur, daging, wool dan sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dari ternak, maka ternak harus memperoleh pakan karena dalam pakan terkandung nutrisi. Sebagai bahan alam baik yang bersifat nabati maupun hewani, pakan disamping mengandung nutrisi juga mengandung bahan non-nutrisi. Beberapa bahan non-nutrisi ini ada yang mengandung toksin (racun), sehingga mengganggu metabolisme dari tubuh ternak. Salah satu toksin dalam pakan adalah asam oksalat yang terdapat pada tumbuhan. Untuk memberikan jaminan pakan yang diberikan bersifat aman bagi ternak .Dengan mengetahui toksikologi pakan, maka kita akan lebih tepat dalam menyusun ransum sehingga ternak akan hidup aman dan meningkatkan produktivitas dari ternak. Pengetahuan tentang kandungan toksin pada bahan baku pakan dapat mencegah dari kerugian yang disebabkan oleh kematian ternak. Usaha untuk identifikasi toksin pada pakan merupakan salah satu usaha dalam analisa resiko pada pakan. Resiko harus dikenali, karena dengan mengenal resiko kita dapat mengambil keputusan secara tepat untuk menekan efek dari resiko. Untuk mendukung swasembada daging sapi dan kerbau maka perlu didukung pemberian pakan yang cukup untuk maintenance dan produksi dari ternak serta aman bagi hidupnya ternak. Pemberian pakan yang cukup dan aman akan memberikan ketersediaan ternak yang sehat dan mampu berkembang biak menghasilkan bibit yang bagus pula.

 

Asam Oksalat

Nama lain asam oksalat adalah Ethanedioic acid yang memiliki rumus kimia C2H2O4, dengan rumus bangun sebagaimana pada Gambar 1. Sifat dari asam oksalat adalah dalam keadaan murni berupa senyawa kristal, larut dalam air (8% pada 10oc) alkohol dan eter dan bersifat asam organik yang kuat, setara 10.000 kali asam asetat. Asam oksalat membentuk garam netral yang larut dalam air (5 – 25%), apabila berikatan dengan logam alkali baik dengan Natrium maupun Kalium, sementara itu dengan logam dari alkali tanah, termasuk Mg atau dengan logam berat, mempunyai kelarutan yang sangat kecil dalam air.

 

Secara molekuler asam oksalat merupakan asam dikarboksilat yang hanya terdiri dari dua atom C pada masing-masing molekul, sehingga dua gugus karboksilat berada berdampingan. Karena letak gugus karboksilat yang berdekatan, asam oksalat mempunyai konstanta dissosiasi yang lebih besar daripada asam-asam organik lain. Besarnya konstanta disosiasi (K1) = 6,24.10-2 dan K2 = 6,1.10-5). Dengan keadaan yang demikian dapat dikatakan asam oksalat lebih kuat daripada senyawa homolognya dengan rantai atom karbon yang lebih panjang. Namun demikian dalam medium asam kuat (pH<2) proporsi asam oksalat yang terionisasi menurun.

 

Asam oksalat memiliki kemampuan mengikat atau mengchelat mineral seperti Calsium, Magnesium, Natrium dan Kalium. Kemampuan mengikat mineral ini akan membentuk senyawa baru (mineral binding compound) yakni berupa garam oxalat. Senyawa tersebut dapat mengganggu system organ dalam tubuh ternak, seperti system ekskresi, koordinasi, pencernaan dan sebagainya. Di dalam saluran pencernaan garam oksalat tersebut dapat melukai saluran pencernaan, sehingga terjadi pendarahan baik di saluran pencernaan depan maupun belakang. Apabila garam oksalat (calsium oksalat) yang terbentuk di dalam saluran ekskresi ginjal membentuk batu ginjal yang akan menimbulkan luka dalam ginjal, maupun saluran renalis baik ureter, vesika urinaria dan uretra.


Rumus bangun asam oksalat

 

Kelarutan Asam Oksalat

Asam oksalat terdapat pada tumbuhan, ada yang bersifat larut dalam air (soluble oxalat) dan tidak larut dalam air (not-solubel), sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 1. Asam oksalat yang bersifat soluble mudah diserap dalam saluran pencernaan, sehingga efek dari terbentuknya garam oksalat ada dalam system dalam tubuh, seperti sitem ekskresi dari ginjal. Hal ini berbeda dengan asam oksalat yang bersifat not soluble yang tidak mudah terserap dalam saluran pencernaan, sehingga tidak merusak system organ lebih jauh tetapi dapat membentuk garam oksalat yang berbentuk kristal tajam, sehingga dapat melukai saluran pencernaan seperti lidah, pharing maupun oesophagus. Asam oksalat yang bersifat solubel lebih berbahaya dibandingkan yang bersifat insoluble.

 

Tabel 1 Beberapa tumbuhan yang mengandung asam oksalat

 

Solubel oxalat

Not-solubel

1. Amaranthus retroflexus

1. Alocasia

2. Centhrus ciliaris

2. Philodendron cordatum

3. Chenopodium album

3. Caladium arboreum

4. Digitaria decumbens

4. Calocasia esculenta

5. Oxalis cernua

5. Dieffenbachia picta

6. Halogeton glomeratus

6. Monstera deliciosa

7. Panicum maximum

7. Dieffenbachia sequine

 

 

Sifat kelarutan dari asam oksalat juga dipengaruhi oleh jenis mineral yang terikat dengan asam oksalat. Ikatan dengan mineral dari kelompok logam alkali bervalensi I (golongan IA) seperti Kalium (K) dan Natrium (Na) maka garam oksalat yang terbentuk bersifat larut air. Apabila asam oksalat berikatan dengan mineral dari logam golongan alkali tanah bervalensi II (golongan IIA) seperti Calsium (Ca) dan Magnesium (Mg), maka akan terbentuk garam oksalat yang berbentuk kristal dan bersifat tidak larut (not soluble). Tingkat keasaman dari lingkungan juga mempengaruhi jenis dari garam oksalat yang terbentuk. Asam oksalat dalam lingkungan asam tinggi kurang lebih ber-pH 2 akan membentuk kalium oxalat (K2C2H2O4) tetapi dalam kondisi sedikit asam, kurang lebih berpH 6, maka asam oksalat akan membentuk natrium oxalat (Na2C2H2O4), calsium oxalat (CaC2H2O4) dan magnesium oxalat (MgC2H2O4).

 

Bahan Makanan dan Pakan yang Mengandung Asam Oksalat

Asam oksalat dapat ditemukan dalam bentuk bebas ataupun dalam bentuk garam. Bentuk yang lebih banyak ditemukan adalah bentuk garam. Kedua bentuk asam oksalat tersebut terdapat baik dalam bahan nabati maupun hewani. Jumlah asam oksalat dalam tanaman lebih besar daripada hewan. Diantara tanaman yang digunakan untuk nutrisi manusia dan hewan, atau tanaman yang ditemukan dalam makanan hewan; yang paling banyak mengandung oksalat adalah spesies Spinacia, Beta, Atriplex, Rheum, Rumex, Portulaca, Tetragonia, Amarantus, Musa parasisiaca. Daun teh, daun kelembak dan kakao juga mengandung oksalat cukup banyak. Demikian juga beberapa spesies mushrooms dan jamur (Asperegillus niger, Baletus sulfurous, Mucor Sp, Sclerotinia Sp dan sebagainya.) menghasilkan asam oksalat dalam jumlah banyak (lebih dari 4-5 gram untuk setiap 100 gram berat kering), baik dalam bentuk penanaman terisolasi dan dalam bahan makanan atau makanan ternak dimana jamur tersebut tumbuh.

 

Distribusi asam oksalat pada bagian-bagian tanaman tidak merata. Bagian daun umumnya lebih banyak mengandung asam oksalat dibandingkan dengan tangkai, sedangkan dalam Poligonaceae, kandungan asam oksalat pada petiole hampir dua kali lebih besar daripada tangkai. Umumnya daun muda mengandung asam oksalat lebih sedikit dibandingkan dengan daun tua. Misalnya pada daun Chenopodiaceae, proporsi asam oksalat dapat bertambah dua kali lipat selama proses penuaan.

 

 

Metabolisme Asam Oksalat

Di beberapa pakan hijauan unggul yang mengandung asam oksalat adalah Setaria sphacelata, Digitaria decumbens, Centrus ciliaris dan Panicum maximum, oleh karena itu dalam pemberian pakan dengan hijauan unggul tersebut harus dikombinasi dengan hijaun yang tidak mengandung asam oksalat. Selain itu asam oksalat juga dapat ditemukan pada biji-bijian dan rumput yang terserang oleh jamur Aspergillus niger. Ternak yang mengkonsumsi pakan yang mengandung asam oksalat akan mengekskresi anti nutrisi tersebut melewati feses dan urin. Penelitian dengan menggunakan domba lokal yang diberi perlakuan dengan pemberian pakan T0: rumput lapangan 100% (ad libitum), T1: rumput lapangan 85% ditambah silase Setaria sphacelata 15% dan T2: rumput lapangan 70% ditambah silase S. sphacelata 30%. Dari hasil pengujian dan perhitungan konsumsi bahan kering, perlakuan tersebut ternak sebanding mengkonsumsi asam oksalat secara berturutan dari perlakuan tersebut sebesar 10,36; 10,51; dan 12,16 g/ekor/hari. Perlakuan tersebut akan mengakibatkan pembuangan asam oksalat lewat feses (%) secara berturut-turut 7,28; 7,45; dan 7,83, dan dalam urin ditemukan secara berturut-turut (%) adalah 0,57; 0,52; dan 0,55, sedangkan dalam serum darah (%) secara berturut-turut 2,13; 2,18 dan 2,16. Dari data tersebut diperoleh bahwa pembuangan asam oksalat melewati feses disbanding melewati urin. Pemberian pakan Setaria spacelata mencapai 30% belum menimbulkan level toksik pada serum darah
(Christiyanto, et. Al, 1992).

 

Klasifikasi Bahan Makanan

Bahan makanan yang mengandung oksalat dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu:

a. Produk-produk dimana miliequivalen asam oksalat yang terkandung jumlahnya 2-7 kali lebih besar daripada kalsium, seperti bayam, orach, daun beet dan akar beet, sorrel, sorrel kebun, kelembak dan bubuk kakao. Bahan makanan ini tidak hanya menyebabkan kalsium yang terkandung di dalamnya tak dapat dimanfaatkan tetapi dengan besarnya asam oksalat yang terkandung dapat mengendapkan kalsium yang ditambahkan dari produk-produk lain, atau jika tidak ada kalsium yang ditambahkan, dapat berpengaruh toksis.

b. Pada produk-produk seperti kentang, amaranth, gooseberries, dan currants, asam oksalat dan kalsium terdapat dalam jumlah yang hampir setara (1±0,2), dengan demikian diantara keduanya saling menetralkan/menghapuskan, olah karena itu tidak memberikan kalsium yang tersedia bagi tubuh. Tetapi mereka tidak merngganggu penggunaan kalsium yang diberikan oleh produk lain dan oleh karena itu tidak menimbulkan pengaruh anti mineralisasi seperti pada produk kelompok pertama.

c. Bahan makanan yang meskipun mengandung asam oksalat dalam jumlah yang cukup banyak, tapi karena pada bahan tersebut kaya akan kalsium, maka bahan makanan tersebut merupakan sumber kalsium. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah selada, dandelion, cress, kobis, bunga kol (terutama brokoli), kacang hijau, dan terutam green peas, koherabbi, block raddish, green turnip, dan dalam jumlah sedikit pada semua sayuran dan buah-buahan.

 

Patogenesis

Ternak yang mengkonsumsi pakan yang mengandung asam oksalat terutama yang bersifat soluble, maka akan terbentuk calsium oksalat (Ca2C2O4), yang berbentuk kristal yang tajam dalam ginjal, sehingga akan merusak ginjal, seperti pada bagian glomerulus maupun duktus kontortus proksimal maupun duktus kontortus distal. Fungsi filtrasi, reabsorbsi dan augmentasi akan terganggu, sehingga kerja ginjal akan terganggu, apabila kondisi ini berlangsung terus menerus dapat mengakibatkan gagal ginjal (renal failure).Keberadaan asam oksalat pada saluran ekskresi ginjal menyebabkan anuria, uremia dan acute renal failure (gagal ginjal akut). Kirstal calcium oksalat selain terletak di ginjal dapat juga masuk dalam aliran darah, sehingga bisa melukai pembuluh darah terjadi pendarahan vascular hemoragi dan dapat terjadi kerusakan pembuluh darah atau yang disebut vascular necrosis. Apabila kerusakan pembuluh darah terjadi pada pembuluh darah kapiler otak dapat menimbulkan kelumpuhan alat gerak. Selain kerusakan karena terbentuknya calcium oksalat disisi lain ternak akan mengalami defisiensi calsium dikarenakan mineral tersebut bukannya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ternak tetapi justru terikat oleh asam oksalat. Defisiensi Ca (hipocalsemia) dapat disebabkan karena racun asam oksalat, sehingga pertumbuhan tulang akan terganggu atau kerabang telur akan rapuh. Kekurangan Calsium yang terus menerus dapat menimbulkan kejang tetani dan kematian. Kekurangan Calsium pada ternak unggas dapat mengakibatkan rapuhnya kerabang telur karena kandungan calcium pada kerabang rendah, sehingga telur mudah pecah. Kondisi ini akan menimbulkan kerugian secara ekonomis dalam produksi produk peternakan.

 

Toksisitas

Gejala klinis yang dapat diamati dari ternak yang keracunan asam oksalat antara lain: nafsu makan ternak turun, ternak tampak gelisah, sulit bernapas, depresi, kadangkadang mengalami kolik, anuria, uremia dan apabila kencing berwarna merah. Ternak khususnya sapi yang menderita keracunan asam oksalat sangat lesu dan kurus karena asupan makannya berkurang, kekejangan kemudian diiringi oleh kematian, kondisi ini didukung karena keracunan asam oksalat bersifat kronis.

 

Di Amerika Serikat, problem peternakan domba yang berhubungan dengan oksalat
adalah pada tanaman halogeton (Halogeton glomeratus) yang meracuni sebagian besar domba.
Sejumlah besar domba mati akibat keracunan halogeton. Di Australia, soursob (Oxalis pescaprae)
yaitu tanaman yang diintroduksi dari Afrika Selatan menyebabkan problem yang
meluas. Di Australia dan bagian daerah tropik lainnya, rumput-rumputan tropis tertentu seperti
setaria (Setaria sphacelata) dan Panicum spp. (rumput gajah, rumput guinea) mungkin
mengandung racun oksalat.

 

Asam oksalat dan garamnya yang larut air dapat membahayakan, karena senyawa tersebut bersifat toksik. Pada dosis 4-5 gram asam oksalat atau kalium oksalat dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa, tetapi biasanya jumlah yang menyebabkan pengaruh fatal adalah antara 10 dan 15 gram. Gejala pada pencernaan (pyrosis, abdominal kram, dan muntah-muntah) dengan cepat diikuti kegagalan peredaran darah dan pecahnya pembuluh darah inilah yang dapat menyebabkan kematian. Letal dosis (LD 50) asam oksalat pada manusia adalah 600 mg/Kg per oral. Untuk ternak ayam LD50 untuk ayam umur satu minggu adalah 984mg/Kg berat badan, sebagaimana dilaporkan oleh Williams dan Olsen (1992).

 

Manajemen Asam Oksalat

 

Untuk menekan efek negatif asam oksalat dapat dilakukan beberapa tindakan yang dapat menekan pengaruh buruk dari asam oksalat. Tindakan tersebut antara lain adalah:

1. Secara laboratorium perlu dilakukan identifikasi terhadap kandungan asam oksalat pada sumber pangan dan pakan, agar dapat dilakukan manajemen pemberian pakan yang tidak boleh melebihi amabng batas asam oksalat.

2. Menghilangkan oksalat dengan membatasi konsumsi bahan makanan yang banyak mengandung oksalat yang larut, yaitu dengan menghindari makan dalam jumlah besar atau juga menghindari makan dalam jumlah kecil tetapi berulang-ulang. Pemberian pakan hijauan yang mengandung asam oksalat secara tunggal perlu dihindari, walaupun hijauan tersebut termasuk unggul. Perlu kombinasi dan variasipakan hijauan yang diberikan pada ternak.

3. Menambah supply kalsium yang akan dapat menetralkan pengaruh dari oksalat. Perlu penambahan calcium yang lebih banyak apabila pemberian pakan mengandung asam oksalat, supaya ketersediaan calcium dapat memenuhi kebutuhan tubuh ternak. Calsium yang diberikan perlu memperhitungkan calcium yang terikat oleh asam oksalat di saluran pencernaan.